Selasa, 08 Desember 2009


TNI Jadi Guru SMK, Harus Punya Lapangan Olahraga

Selasa, 8 Desember 2009 | 8:07 WIB | Posts by: jps | Kategori: Pendidikan, Surabaya Raya | ShareThis

SURABAYA- SURYA- Direktorat Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjalin kerjasama dengan TNI.untuk mengatasi kebutuhan guru SMK yang tahun ini mencapai 10.000 orang tenaga pengajar. MoU antar dua lembaga ini telah ditandatangani dan TNI akan menyediakan 750 tenaga pengajar

“Berdasarkan hitungan matematis dan perbandingan satu guru mengajar 30 siswa maka saat ini kebutuhan guru mencapai 10 ribu orang. Kebutuhan itu tidak mungkin semuanya dipenuhi dari LPTK mengingat dalam setahun Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) rata-rata meluluskan hanya enam ribu guru,” ujar Direktur Pengembangan SMK Djoko Sutrisno, Senin (7/12).

Djoko Sutrisno menjelaskan, tahun ajaran 2008/2009 jumlah siswa SMK mencapai 1,1 juta orang dan terus meningkat hingga tahun ini diperkirakan mencapai 1,4 juta orang.

TNI yang akan diperbantukan adalah prajurit yang mempunyai keahlian, misalnya bidang penerbangan. Selain membagi ilmu di bidang keahlian khusus, tenaga pengajar dari TNI diharapkan juga bisa memberi masukan masalah kedisiplinan.

Walikota Surabaya Bambang Dwi Hartono menyatakan dukungan pengembangan SMK di Surabaya. Selain menambah jumlah SMK, pemkot juga akan membantu lulusan SMP untuk mengikuti pendidikan di SMK Pelayaran maupun SMK Penerbangan.

“Besiswa di bidang pelayaran telah kami berikan dan akan kami lanjutkan, yang terbaru kami juga akan memberi beasiswa bagi mereka yang mau bersekolah ke SMK Penerbangan,” ujar Bambang di SMKN 1.

Selain pemberian beasiswa, Bambang juga meminta semua bangunan sekolah di Surabaya dibangun secara vertikal (bertingkat). “Saya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa lahan di kota makin mahal, maka bangunlah gedung secara vertikal agar menghemat lahan,” kata Bambang

Mantan Ketua DPS PDIP Surabaya itu juga berharap tiap-tiap sekolah mempunyai lahan untuk aktivitas siswa. Selama ini, kata dia, sekolah-sekolah yang ada di Surabaya jarang yang memiliki lapangan olah raga.

Ketika meninjau SMPN 27 Surabaya, Bambang menilai masih kekurangan lahan khususnya untuk lapangan olah raga. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena bisa membuat para siswa menjadi kurang gerak.

“Anak-anak kurang gerak karena kurang olah raga,” katanya.

Bangunan vertikal, lanjut dia, juga sangat membantu para siswa untuk bergerak setiap harinya. Ia mencontohkan untuk ruang kelas, siswa bisa dipindah-pindah. “Untuk jam pelajaran pertama bisa dilantai dua, untuk pelajaran kedua bisa di lantai satu,” katanya.

Wali kota merasa prihatin dengan kondisi para siswa di Surabaya yang jarang menyukai olah raga. Seperti halnya siswa yang mulai berangkat sekolah diantar pakai mobil, kemudian saat pelajaran hanya duduk manis di kelas, begitu juga saat pulang ke rumah juga diantar mobil. Praktis dengan kondisi seperti ini, kata Bambang, banyak siswa yang kurang gerak sehingga kondisi badan menjadi lemah dan sering capek sehingga mudah terserang penyakit. Rey/ant

Berita Terkait

Tak ada berita terkait

Setujukah anda

 
TAG SMK menjalin kerjasama dengan TNI